Belitung | Satamexspose.com - RSUD Marsidi Judono yang dianggap memiliki pelayanan terbaik hingga keamanan tinggi dan parkiran terorganisir kini dilanda badai ketidak percayaan Pasien dan pengunjung, Kamis (21/5).
Salah seorang pasien berinisial AS, warga Tanjungpandan beberapa waktu lalu mengalami kehilangan alat bantu punggungnya di area RSUD Marsidi Judono.
Menurutnya kejadian berawal ketika ia yang ditemani kakaknya datang ke RSUD Marsidi Judono untuk melakukan pemeriksaan rutin.
Usai melakukan pemeriksaan, AS yang berada di kursi roda ditemani kakaknya menunggu jemputan dan ketika kendaraan tiba merekapun bergegas pulang, namun baru saja meninggalkan halaman rumah sakit ia merasa alat bantu punggung miliknya tertinggal di kursi roda rumah sakit.
Namun ketika mereka kembali kursi roda dan alat bantu punggungnya sudah tidak ada.
Kakaknya lantas mencari pihak keamanan rumah sakit hingga akhirnya meminta pengawasan cctv rumah sakit tersebut.
Dalam rekaman cctv tersebut terlihat seorang wanita berpakaian hitam membawa masuk kursi roda yang sempat ia gunakan.
Tak lama berselang, perempuan itu keluar dengan memeluk benda diperutnya yang diduga kuat adalah alat bantu punggung milik AS.
Terkait itu, pihak rumah sakit hanya bilang bahwa wanita yang ada di rekaman cctv bukanlah petugas rumah sakit dan tidak ada upaya untuk menindak lanjutinya.
Selanjutnya kakak AS memposting di Facebook rekaman cctv rsud yang dimilikinya dan berharap itikad baik dari orang yang menemukannya.
Tak lama kemudian, kakaknya justru mendapat telpon dan WhatsApp dari petugas rumah sakit untuk menghapus postingannya dengan dalih atas permintaan kepolisian dan bisa dilaporkan UUITE.
Terkait persoalan itu, Satamexpose.com berusaha mengkonfirmasi Direktur RSUD Marsidi Judono dr. Jubrl TH Gultom yang mengatakan pihaknya tidak pernah menerima laporan kehilangan dari pasien.
Namun setelah dikirimi video rekaman cctv ia menyarankan agar pasien maupun keluarga melaporkan kejadian tersebut ke ULP (unit layanan pengaduan) RSUD Marsidi Judono.
Ketika disampaikan WhatsApp antara pihak rumah sakit dan keluarga pasien yang meminta penghapusan postingan dan indikasi pengancaman terkait persoalan itu, menganggap persoalan kehilangan dan isi WhatsApp tersebut merupakan dua kasus yang berbeda.
"Kalau saya baca kasus kehilangan dengan ini beda...(merujuk pada percakapan WhatsApp pihak rumah sakit dan keluarga pasien, red)
Saran saya.. Kalau ada kehilangan baiknya dilaporkan.." tulisnya melalui WhatsApp kepada Satamexpose.com, Rabu (20/5). (red*)

0 Komentar