Agustus 05, 2020

JD TOLAK SWAB ULANG, BEGINI PENJELASAN DOKTER SPESIALIS PHATOLOGI TERKAIT HASIL SWAB BERBEDA

Ilustrasi Covid-19. Net

PANGKALPINANG, SATAMEXPOSE.COM – Perbedaan hasil pemeriksaan swab anggota DPRD Kabupaten Belitung JD (55) antara RSUD dr H Marsidi Judono dan Balai Labkesda Provinsi Babel dibenarkan Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Babel.

 

Spesialis phatologi klinik yang bertugas di Laboratorium PCR Balai Labkes Provinsi Babel dr Egha Zainur menjelaskan, perbedaan hasil swab bisa saja terjadi karena diagnosis yang paling baik itu ada di beberapa kondisi.

 

Hal tersebut dijelaskan dalam konferensi pers terkait perbedaan hasil pemeriksaan swab JD antara RSMJ dan Balai Labkesda Provinsi Babel, Rabu (5/8/2020) di Pangkalpinang.

 

" Secara prinsip sebetulnya, virus ini adalah virus yang menyerang melalui saluran nafas. Sehingga ada perbedaan antara kondisi awal dengan kondisi tengah dan kondisi akhir. Untuk dapat diagnosisnya adalah saat kondisi tengah pada saat puncak virus-virusnya," ujar Egha.

 

Jika seseorang baru saja terinveksi virus, positif palsunya sangat tinggi. Begitu juga pada saat seseorang akan sembuh, kemungkinan negatif palsunya juga ada.

 

"Pada saat kondisi awal itu positif palsunya masih sangat tinggi. Kondisi akhir itu negatif palsunya juga tinggi. Untuk meminimalkan kondisi negatif palsu tersebut secara protokol itu harus dilakukan swab dua kali," terang Egha.

 

Seseorang yang sudah dinyatakan sembuh harus mendapatkan hasil swab negatif sebanyak dua kali atau isolasi sepuluh hari tanpa gejala klinis. Dan itupun harus dilakukan pengambilan sample secara benar.

 

"Hasil negatif sekali itu belum bisa memastikan benar-benar bahwa dia negatif. Sampling swab yang kita lakukan itu sudah dilakukan petugas yang benar-benar berpengalaman,” tambah Egha.

 

Pergeseran dan pergerakan dari pasien dalam pengambilan sampel swab juga bisa mempengaruhi hasil. Pasalnya pengambilan swab itu harus mengambil sampai hidung bagian belakang kemudian ditahan dan diputar.

 

Jika kadar virusnya cukup tinggi maka akan lebih mudah saat pengambilannya. Jika kadar virusnya masih rendah, biasanya diawal infeksi atau diakhir infeksi ini yang harus diulang dihari-hari berikutnya.

 

Terkait dengan hasil swab yang berbeda untuk JD, kemungkinan JD saat itu berada di kondisi akhir. Sebab dari informasi yang diperoleh Egha dari ahli phatologi RSMJ, angka hasil swab JD memang sudah memasuki kondisi pemulihan.

 

"Angka yang didapat itu sebetulnya angka yang cenderung memang kearah pemulihan. Pada hasil pertama kemarin memang kami dapatkan hasil negatif, tetapi ini belum kongklusif belum dapat disimpulkan begitu saja," jelas Egha.

 

Dari hasil diskusi bersama, baik dokter yang menangani dan juga pimpinan Balai Labkes Provinsi Babel untuk memperjelas status JD, maka dilakukan pengambilan swab kembali.

 

"Hasil swab negatif satu kali, harus diulang agar bisa disimpulkan. Namun yang bersangkutan tidak berkenan. Yang bersangkutan lebih memilih untuk isolasi selama sepuluh hari dikarantina BKSDMD," lanjut Egha.

 

Sesuai dengan protokol dalam pedoman kelima  kementerian, Covid-19 ini ada dua pilihan. Yang pertama isolasi selama 10 hari itupun tanpa syarat PCR bisa tanpa gejala. Atau yang kedua lakukan swab dua kali dengan hasil keduanya harus negatif.

 

"Tidak ada perbedaan antara kami dengan yang di Belitung, kami menghargai hasil yang ada di Belitung, karena itu hasil yang valid dan positif. Dan kami disinipun dengan hasil yang baik, karena itu adalah hal yang wajar sesuai dengan perkembangan genetika yang ada sesuai dengan sampling yang ada," pungkas Egha. (als)


Portal Media Online Masa Kini Yang Menyajikan Berita Aktual, Kredibel, Independen dan Terpecaya .Apabila terdapat kesalahan, koreksi, duplikasi dan atau mengandung informasi yang bersifat palsu atau tidak benar (Hoax) dapat menghubungi Tim Redaksi melalui kontak yang tersedia. Terima Kasih telah menjadi pembaca setia SATAMEXPOSE.COM.