September 02, 2014

PBB : Kekerasan Di Ukraine Harus Segera Di Hentikan

Satam Xpose - Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon mengaku prihatin dengan memburuknya situasi di timur Ukraina. Dari laporan yang dia dengar, peperangan juga terjadi di bagian selatan Ukraina.

Padahal, di saat bersamaan, tengah ditempuh upaya pencarian solusi untuk konflik di Ukraina. Hal itu dilontarkan Ban ketika ditemui media dalam forum global PBB untuk Aliansi Peradaban (UNAOC) di Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC) pada Jumat, 29 Agustus 2014.

"Saya prihatin dengan situasi di perbatasan Ukraina dan Rusia. Ini menjadi isu yang sangat berbahaya karena ketegangan di lapangan kian meningkat. Pasokan senjata dari Rusia terus masuk menuju ke Ukraina," kata Ban.

Oleh sebab itu, dia mengimbau agar pasukan perbatasan kedua negara bisa melakukan pemeriksaan.

"Kita tidak boleh membiarkan kekerasan dan peperangan terus berlangsung di timur Ukraina. Semua harus memainkan perannya untuk menjaga resolusi damai dalam menghadapi konflik ini sejalan dengan kedaulatan dan kesatuan Ukraina," ujar Ban.

Sebab, lanjut Ban, begitu banyak warga Ukraina yang menjadi korban dalam peperangan tersebut. Data dari PBB yang dilansir kantor berita Russia, Russia Today edisi Juli lalu, menyebut sebanyak 1.129 warga terbunuh akibat peperangan antara kelompok separatis pro Rusia dengan militer Ukraina.

Dia mendorong untuk segera tercipta perdamaian di Ukraina.

Upaya untuk mencari solusi damai mulai dilakukan ketika Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden Ukraina, Petro Poroshenko, bertemu di Minsk Belarusia, pada Selasa, 26 Agustus 2014. Keduanya terlihat berjabat tangan sebelum memulai perundingan.

Dalam pembukaan pertemuan, Putin mengatakan Moskow tertarik tidak saja untuk mempertahankan kerja sama dengan Ukraina, namun juga meningkatkannya. Walaupun begitu, Putin mengaku ragu kedua negara bisa mencapai tujuan itu, karena hubungan kerja sama Kiev dengan organisasi Uni Eropa akan berlaku. 
Sebab, Moskow akan dipaksa menerapkan langkah antisipasi sama seperti yang diberlakukan ke Amerika Serikat dan negara-negara anggota UE.

"Kami tidak ingin bersikap diskriminatif terhadap siapa pun. Kami akan memberlakukan sebuah standar perdagangan terkait Ukraina. Standar itu akan berlaku sama seperti hubungan Rusia dengan UE," kata Putin.

Sementara itu, Poroshenko menyatakan tujuan kunjungan dia pada Selasa lalu untuk menempuh langkah apa pun agar pertumpahan darah di negaranya bisa berhenti. Selain itu, dia mengaku siap berkompromi secara politik.

Caranya, ujar Poroshenko, dengan membangun sistem pengendalian perbatasan yang baik. Dalam pertemuan itu, dia juga meminta agar semua pihak yang terlibat dalam pembicaraan itu menerima rencana damai bagi kota Donbass.

"Saya yakin bahwa rencana perdamaian ini tetap sesuai saat ini dan akan menjadi cara yang efektif untuk menghentikan pertumpahan darah serta mulai membangun kembali Donbass," kata Poroshenko sambil berjanji untuk memperhatikan nasib penduduk di kota itu.

Korban mulai banyak jatuh sejak Pemerintah Ukraina kembali menghidupkan operasi militer untuk menghadapi kelompok separatis pro Ukraina di bagian timur pada Mei lalu.

Operasi militer itu digelar sehari paska terjadi kerusuhan antara kelompok pro Kiev dan separatis di Odessa. Puncak kerusuhan ditandai dengan pembakaran gedung Trade Union House yang berlokasi di pusat lapangan Maidan Nezalezhnosti. Akibat pembakaran gedung itu, sebanyak 36 orang dilaporkan tewas akibat kehabisan napas. (sumber)

Portal Media Online Masa Kini Yang Menyajikan Berita Aktual, Kredibel, Independen dan Terpecaya .Apabila terdapat kesalahan, koreksi, duplikasi dan atau mengandung informasi yang bersifat palsu atau tidak benar (Hoax) dapat menghubungi Tim Redaksi melalui kontak yang tersedia. Terima Kasih telah menjadi pembaca setia SATAMEXPOSE.COM.