Ticker

6/recent/ticker-posts
ADS SLOT

TERANCAM MOLOR, PEKERJAAN KAMPUNG NELAYAN MERAH PUTIH DISINYALIR SARAT MASALAH


Belitung | Satamexspose.com  -  Paket pekerjaan konstruksi pembangunan kampung nelayan merah putih di Desa Sungai Padang, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, terancam molor, Rabu (24/6).
‎Pekerjaan dengan nomor kontrak: B.23135/DJPT.6/PI.420/XII/2025 yang menelan dana APBN 2025 sebesar Rp. 12.105.739.095,- dengan PT. Sinar Habib Agung Putra sebagai pelaksana yang di jadwalkan selesai pengerjaannya pada 28 Juni 2025 ternyata baru mencapai volume pekerjaan sebesar 55% saja.
‎"Progres pekerjaan kita sekitar 55% Pak," ujar salah seorang teknisi proyek tersebut.
‎Manager Proyek PT. Sinar Habib Agung Putra, Fairus ketika ditemui Satamexpose.com di lokasi pengerjaan berkeyakinan pihaknya mampu menyelesaikan pekerjaan tersebut tepat waktu.
‎"Kita sudah dapatkan adendum waktu selama satu bulan kedepan dan kami yakin bisa kami selesaikan dengan sempurna," ujarnya meyakinkan.
‎Menurutnya, berdasarkan Adendum Surat Perjanjian II Kontrak Harga Satuan Nomor B.15445/DJPT.6/PI.420/PPK/VI/2026 tertanggal 2 Juni 2026 pekerjaan yang tadinya waktu pengerjaannya 180 hari kalender diubah menjadi 210 hari kalender.
‎"Artinya, pekerjaan baru berakhir pada 28 Juli 2026 mendatang," tambahnya.
‎Berdasarkan site plan yang ada di lokasi proyek, terdapat 23 pekerjaan dalam lokasi tersebut dan pantauan lapangan, ada sembilan bangunan gedung yang baru terbangun, itupun dalam kondisi belum rampung bahkan beberapa bangunan belum naik atap, ditambah pekerjaan dermaga tambat perahu yang baru menyelesaikan tahap pemancangan tiang, sedangkan pagar pagar kawasan sudah selesai dikerjakan.
‎Selain itu, ditemukan besi cor untuk balok dermaga yang semestinya menggunakan besi 10 ulir ternyata ada salah satu besinya menggunakan besi 10 polos.
‎Menanggapi itu, Fairus mengatakan itu merupakan kelalaian dari pekerja sebelumnya yang sudah diberhentikan.
‎"Yang merangkai besi ini sudah kami berhentikan dan untuk besi 10 polos ini segera kami ganti," ujarnya.
‎Selain itu, tiang dermaga yang dibangun dengan sistem sumuran dengan besi 13 ulir yang dirangkai ternyata pengecorannya hanya menggunakan semen portland biasa yang umum dipergunakan untuk bangunan didarat.
‎"Kami menggunakan semen Portland biasa dengan dilapisi pipa paralon," ujar teknisi yang mendampingi Fairus.
‎Idealnya, untuk konstruksi yang terendam atau kontak langsung secara terus-menerus dengan air laut harus menggunakan semen portland tipe V, namun itu diakui mereka tidak dilakukan dan mereka akan tetap menggunakan semen portland biasa dalam pengecoran dermaga dan tiang dermaga di laut. (**)

Posting Komentar

0 Komentar